Morfologi: Pengertian, Sejarah, dan Pendekatan Morfologi

share

Morfologi adalah salah satu cabang ilmu Linguistik yang mempelajari bentuk kata, proses pembentukan kata serta perubahan bentuknya yang menimbulkan perbedaan fungsi dan makna. Objek Morfologi disebut Morfem, objek Fonologi adalah Suara, objek Fonemik adalah Fonem, dan objek Sintaks adalah Kalimat.

Pengertian Morfolofi Menurut Para Ahli

Geert Booij (2005) menjelaskan morfologi adalah studi tentang struktur internal kata, berkaitan dengan bentuk leksem (infleksi), dan dengan cara leksem terbentuk (pembentukan kata). Kata-kata baru dibuat atas dasar pola-pola korespondensi bentuk-makna antara kata-kata yang ada. Oleh karena itu, hubungan paradigmatik antara kata-kata sangat penting, dan morfologi tidak dapat dipahami sebagai ‘sintaksis morfem’ atau ‘sintaksis di bawah tingkat kata’.

John Lions (1968) menjabarakan morfologi bahasa yang kami maksud adalah konstruksi di mana bentuk-bentuk terikat muncul di antara konstituen.”

HA. Gleason (1970) menjelaskan morfologi adalah deskripsi dari kombinasi morfem yang lebih intim, kira-kira apa yang akrab disebut ‘kata-kata’….”

Charles F. Hockett (1958: 177) mengatakan morfologi mencakup stok atau morfem segmental dan cara-cara di mana kata-kata dibangun dari mereka”.

Ramlan (2009: 23) mendefinisikan morfologi  sebagai seluk beluk pembentukan kata dimana satuan morfem diselidiki oleh morfologi dan tingkatan yang paling tinggi berupa kata.

Kridalaksana mendefinisikan morfologi adalah suatu bidang  linguistik yang  mempelajari  morfem  dan  segala kombinasinya dari struktur bahasa.

Sejarah Morfologi

Sebelum abad kesembilan belas, morfologi tidak muncul sebagai sub-cabang linguistik. Tapi sekarang, morfologi adalah sub-cabang linguistik.
Pada tahun 1786, Sir William Jones mengklaim bahwa bahasa Sansekerta, Latin, Persia, dan Jermanik diturunkan dari nenek moyang yang sama. Pada tahun 1816, Franz Bopp mendukung temuan Sir Jones. Buktinya didasarkan pada perbandingan akhiran gramatikal kata-kata dalam bahasa-bahasa ini.
Pada tahun 1899, di bawah pengaruh Teori evolusi Darwin, Mark Muller menyampaikan kuliahnya di Oxford bahwa studi tentang evolusi kata-kata menerangi evolusi bahasa seperti halnya dalam morfologi biologi. Klaim spesifiknya adalah bahwa studi tentang 400-500 akar dasar nenek moyang Indo-Eropa dari banyak bahasa Eropa dan Asia adalah kunci untuk memahami asal usul bahasa manusia.
Pada tahun 1993, Katamba berpendapat bahwa pretensi evolusioner seperti itu ditinggalkan sangat awal dalam sejarah morfologi. Dia mengatakan bahwa di negara ini, morfologi dianggap sebagai disiplin sinkronis esensial, yaitu disiplin yang berfokus pada studi struktur kata pada satu tahap dalam kehidupan bahasa daripada pada evolusi kata.

Analisis linguistik juga mengusulkan pemisahan Tingkat dalam linguistik:
Tingkat semantik (berurusan dengan makna)
Tingkat sintaksis (berurusan dengan struktur kalimat)
Tingkat morfologis (berkaitan dengan struktur kata)
Fonologi / Fonemik (berurusan dengan sistem bunyi)

Analis yang menghasilkan deskripsi bahasa dipandang sebagai salah satu yang bekerja, dalam tahap yang terpisah. Tingkat diasumsikan diurutkan dalam hierarki. Pengucapan pertama, kedua struktur kata, ketiga struktur kalimat dan terakhir makna ujaran. Namun, pada tahun 2002, Hanafi menambahkan pragmatik pada pemisahan tataran kebahasaan, karena penggunaan bahasa tidak dapat dijelaskan tanpa mengacu pada sintaksis dan semantik.

Tingkat pragmatis (berurusan dengan bahasa yang digunakan)
Tingkat semantik (berurusan dengan makna)
Tingkat sintaksis (berurusan dengan struktur kalimat)
Tingkat morfologis (berkaitan dengan struktur kata)
Fonologi / Fonemik (berurusan dengan sistem bunyi)

Pendekatan Struktural Dalam Morfologi

Secara keseluruhan, semua ahli bahasa setuju bahwa, dalam kata-kata, bagian-bagian yang bermakna dapat dirasakan; setiap latihan yang ditujukan untuk mempelajari unsur-unsur yang bermakna dalam sebuah kata disebut morfologi. Oleh karena itu, morfologi adalah studi tentang bagian-bagian kata yang bermakna. Kata ‘Pengajar’ misalnya terdiri dari dua komponen yaitu ajar (kata kerja) dan peN- (awalan). Inilah yang ingin dijelaskan oleh morfologi. Oloruntoba-Oju (1994:71) mendefinisikan morfem dalam hal penempatannya di antara unit-unit tata bahasa lainnya sebagai “unit pembawa makna terkecil dalam sebuah kata”. Ayodele (2001:75) mendefinisikannya sebagai “unit terkecil, yang menunjukkan struktur internal dan maknanya sendiri tetapi tidak dapat dipecah lebih lanjut”.

Upaya untuk menganalisis struktur bagian-bagian komponen ini mengarah pada morfologi. Morfologi dengan demikian berhubungan dengan struktur internal bentuk kata. Lyons (1974:81) yang dikutip dalam Odebunmi (2006:39) memandang morfem sebagai “unit minimal analisis gramatikal, unit peringkat terendah dari mana kata-kata, unit peringkat ‘lebih tinggi’ berikutnya disusun”. Bello (2001:92) dari perspektif status morfem dalam satuan tata bahasa mendefinisikannya sebagai “unit makna terkecil dalam struktur suatu bahasa”. Yang dimaksud dengan satuan terkecil yang bermakna adalah satuan yang tidak dapat dipecah lagi tanpa merusak atau mengubah maknanya secara drastis. Misalnya, meskipun kata “realitas” dapat dipecah lebih lanjut menjadi real dan –itas (membuat dua morfem), kata itu tidak dapat dipecah lebih lanjut tanpa mengubah maknanya. Ini menunjukkan perbedaan umum antara realitas dan realitas: upaya untuk lebih memecah hasil sebelumnya menjadi menghasilkan makna yang sama sekali berbeda dalam arti jamak.


Tulisan ini merangkum dan menulis kembali dari sumber-sumber terpercaya

Baca artikel linguistik lainnya

Baca artikel yang membahas bidang kajian linguistik lainnya

1. Fonologi

2. Morfologi

ARTIKEL TERBARU

SEMUA KATEGORI