1. FI-Teks-teks dalam Bahasa Indonesia

Pengertian Sastra

share

Pengertian Sastra

Terry Eagleton (1998: 1-18) pernah memaparkan karya sastra sebagai karya tulis yang bersifat “imajinatif”, dalam pengertian sastra adalah cerita rekaan yang tidak dapat dianggap benar secara harfiah. Menurut konsep Barat, istilah sastra berasal dari litera (huruf). Adapun menurut konsep Timur, sastra berasal dari su-sastra, yaitu tulisan yang baik dengan tujuan yang baik pula. Kendati berarti huruf yang artinya mengacu pada sastra tulis, tidak berarti sastra lisan, yang direkam dalam ingatan, diabaikan. Dengan demikian, sastra diciptakan dengan bahasa yang baik dan mengandung tujuan yang mulia. Sastra, baik sebagai kreativitas penciptaan (literature) maupun sebagai studi sastra (literary study/literary studies) berusaha mencari kebenaran yang relatif. Namun, kebenaran dalam sastra sebagai sebuah kreativitas penciptaan (literature) hanya berlaku pada konteks tertentu saja, sementara konteks yang satu akan berbeda dengan konteks lainnya (Darma, 2004: 36-37).

Pengertian yang sangat populer dan umum tentang sastra dikenalkan oleh Rene Wellek dan Waren (1968) yang menyebutkan bahwa sastra adalah karya imajinatif atau fiktif yang bermedium bahasa dan mempunyai nilai estetik yang tinggi. Menurut keduanya, acuan karya sastra bukanlah dunia nyata, melainkan fiksi dan imajinasi. Pernyataan-pernyataan dalam karya sastra bukanlah proposisi yang logis. Karakter-karakter dalam karya sastra bukanlah tokoh-tokoh sejarah dalam kehidupan nyata. Adapun Baldick (2001: 141-142) mendefinisikan sastra sebagai suatu karya yang ditulis atau dicetak berdasarkan kriteria nilai imajinatif, kreatif, atau artistik dan biasanya berkaitan dengan ketidakhadiran karya yang faktual atau referensi praktis.

Childs dan Fowler (2006: 129-130) mendefinisikan sastra sebagai komposisi imajinatif, terutama yang dicetak meskipun sebelumnya juga termasuk yang dilisankan, baik berbentuk dramatis, metris, maupun prosa. Definisi ini relatif baru kira-kira berasal dari abad ke-19. Pada mulanya, sastra memiliki arti yang lebih luas yaitu tulisan dalam bahasa tertentu baik artistik tertulis. Karakteristik sastra dapat dilihat dari beberapa sudut pandang baik maupun tidak dan secara khusus merupakan studi suatu korpus bahan-bahan intrinsik maupun ekstrinsik. Secara ekstrinsik, sastra adalah institusi kultural yang definit, seperangkat sistem semiotik yang saling berhubungan. Selain itu, pengertian sastra ada pula yang disebutkan sebagai karya ekspresi jiwa pengarangnya.

Pengertian semacam ini sangat kuat dianut sejak zaman romantik. Namun, definisi ini banyak ditentang oleh banyak kritikus sastra. Alasannya, pertama, banyak sastrawan yang menulis bukan untuk mengekspresikan jiwanya, melainkan cerminan masyarakat untuk perjuangan sosial. Kedua, sebagai sarana ekspresi jiwa, karya sastra tidak perlu dipublikasikan secara luas. Alasannya, persoalan yang dihadapi oleh pengarang akan selesai jika sudah terekspresikan. Ketiga, sebagai ekspresi pengarang, karya sastra tidak dapat bertahan melampaui diri dan masa pengarangnya. Keempat, karya sastra tidak dapat menjadi milik subjektif pengarang sepenuhnya karena bahasa yang digunakan adalah bahasa milik bersama (Faruk, 2010: 45). Pada umumnya, sastra dibedakan dari linguistik. Upaya telah dilakukan untuk menyimpannya dalam tulisan dan tradisi lisan. Sastra dianggap sebagai alat yang potensial dalam transmisi dan preservasi nilai-nilai budaya. Sastra juga dimaknai sebagai manifestasi tekstual dari tulisan (Wolfreys, Robbins dan Womack, 2006: 62). Istilah sastra mengacu pada penciptaan karya sastra yang secara khusus berupa prosa dan puisi. Sastra digunakan untuk menyebut setiap tulisan yang bersifat imajinatif, kreatif, atau fiksional berupa puisi, drama, atau prosa.

Oleh karena itu, dalam pemakaian istilah tersebut secara implisit terdapat konsep estetika dan penentuan nilai, sehingga dengan cara demikian terdapat karya yang bernilai dan tidak bernilai sastra. Batasan sastra yang lain adalah suatu pengakuan terhadap pemakaian bahasa dengan cara khusus yang mentransformasikan ujaran sehari-hari atau biasa, misalnya melalui intensifikasi atau pemisahan tropologis. Bahasa sastra atau beberapa aspeknya dalam beberapa hal menyimpang dari ujaran sehari-hari. Sementara itu, dari perspektif yang lain, konteks dapat menetapkan definisi sastra. Dalam hubungannya dengan dunia sosial, definisi sastra pun berkembang. Dalam hal ini sastra tidak hanya dipahami sebagai sebuah karya fiktif dan imajinatif yang sekaligus sebagai ekspresi subjektif individu, tetapi ada relasi sosial. Paham seperti ini pernah disampaikan Plato melalui teori mimesis. Menurut Plato, dunia dalam karya sastra merupakan tiruan terhadap dunia kenyataan yang sebenarnya juga merupakan tiruan terhadap dunia ide (Faruk, 2010: 47). Adapun pengertian sastra Indonesia secara khusus adalah karya karya yang menggunakan medium bahasa Indonesia baik kurun masa lampau maupun masa kini (Chamamah-Soeratno, 1995: 5).

1. G1-Defenisi Sastra

Sumber Gambar: Freepik.com

Baca artikel yang membahas materi sastra lainnya di sini

Sumber  di sini

ARTIKEL TERBARU

SEMUA KATEGORI