KKN REGULER UAD 99 KELOMPOK I.A.1

Hai! Adik-adik belajar Al-Quran, yuk! Untuk bekal akhirat kita...

Belum lancar membaca Al-Quran? Kita belajar bersama-sama, yuk.

MATERI POKOK BELAJAR AL QURAN

HURUF HIJAIYAH

Abjad dalam bahasa Arab berjumlah 30 huruf bila ditambah dengan hamzah (ء) dan lam alif (لا)

BACAAN TIDAK GHUNNAH

Bacaan dalam Al-Quran yang hurufnya dibaca dengan jelas

MAD THABI'I

Mad yang terjadi apabila ada huruf alif (ا) terletak sesudah harakat fathah, huruf ya sukun (ي) terletak sesudah harakat kasrah, dan huruf waw mati (و) sesudah harakat dammah.

BACAAN GHUNNAH

Bacaan dalam Al-Quran yang hurufnya dibaca dengan dengung

MAD FAR'I

Mad yang merupakan hukum tambahan dari mad asli (sebagai hukum asalnya), yang disebabkan oleh hamzah atau sukun.

TANDA WAQAF

Fawātih adalah jama’ dari kata Fātih yang secara bahasa berarti pembuka. Suwār adalah jama’ dari kata Sūrah sebagai sebutan sekumpulan ayat-ayat al-Qur’an dengan nama tertentu.

Materi 1

Huruf Hijaiyah

1. ا (alif)
2. ب (ba’)
3. ت (ta’)
4. ث (tsa)
5. ج (jim)
6. ح (ha’)
7. خ (kha’)
8. د (dal)
9. ذ (dzal)
10. ر (ra’)
11. ز (za)
12. س (sin’)
13. ش (syin)
14. ص (shad)
15. ض (dhad)

16. ط (tha’)
17. ظ (zha’)
18. ع (‘ain)
19. غ (ghain)
20. ف (fa’)
21. ق (qaf)
22. ك (kaf)
23. ل (lam)
24. م (mim)
25. ن (nun)
26. هـ (haa)
27. و (wau)
28. ي (ya’)
29. ء (hamzah)
30. لا (lam alif)

Materi 2

Mad Thabi'i

Definisi

Menurut bahasa , mad adalah memanjangkan atau sesuatu yang memanjang. 

 

Menurut pendapat yang lain adalah az – ziyadah yaitu sesuatu yang tambah . Sedangkan menurut Istilah , mad adalah memanjangkan suara huruf dari huruf huruf mad .

Huruf dan Ketentuan

Hukum Mad Thobi’i ini berlaku ketika:
Huruf hijaiyah dengan harakat Fathah ( ﹷ ) bertemu dengan huruf hijaiyah Alif ( ا )
Huruf hijaiyah dengan harakat Kasrah ( ِ) bertemu huruf hijaiyah Ya Sukun ( يْ )
Huruf hijaiyah dengan harakat Dhammah (ُ bertemu dengan huruf Waw sukun ( و )

Contoh Ayat

1. Surah Al-Fil Ayat 1
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

(Huruf ya sukun (ي) terletak sesudah kasrah

Bacaan latinnya: “Alam tara kaifa fa’ala rabbuka bi`aṣ-ḥābil-fīil”
Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?”

 

2. Al-Humazah Ayat 3
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

(Huruf alif (ا) terletak sesudah fathah)
Bacaan latinnya: “Yaḥsabu anna mālahū akhladah”
Artinya: “Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,”

Materi 3

Mad Far'i

Mad yang disebabkan karena adanya hamzah ada 3 macam:

  1. Muttashil

Yaitu jika mad bertemu langsung dengan hamzah dalam satu kata. Mad ini dinamakan dengan mad wajib muttashil.

1.1.  Mad Wajib muttashil

Mad wajib muttashil adalah huruf mad dan hamzah berada pada satu kata. Disebut mad wajib karena para ulama sepakat membaca panjang lebih dari dua harakat namun berbeda-beda ukurannya. Disebut muttashil yang artinya bersambung karena mad bertemu hamzah dalam satu kata.

Contoh mad wajib muttashil:

اَلْمَلَائِكَةُ – سُوْءُ – شَآءَ – يُرَاءُوْنَ – وَجِيْءَ

Ukuran panjangnya 4-5 harakat baik ketika washal maupun waqaf namun yang lebih diutamakan 4 harakat. Boleh juga dibaca sampai 6 harakat jika terdapat mad wajib muttashil diujung kata dan dibaca waqaf. Contoh:

حُنَفَآءَ – السَّمَآءِ

 

  1. Munfashil

Mad munfashil adalah mad dan hamzah terpisah atau mad bertemu hamzah di lain kata. Yang termasuk kategori mad munfashil adalah mad jaiz munfashil dan mad shilah thawilah.

2.1. Mad Jaiz Munfashil

Mad jaiz munfashil adalah mad bertemu hamzah pada dua kata. Disebut mad jaiz karena tidak semua ulama ahli qiraat sepakat untuk memanjangkan mad ini lebih dari dua harakat. Munfashil artinya terpisah yakni antara mad dengan hamzah terdapat pada kata yang berbeda. Panjangnya 4-5 harakat.

Contoh mad jaiz munfashil:

كَلَّا إِذَا – إِنِّيْ أَخَافُ – تُوْبُوْا إِلَى اللهِ

2.2. Mad Shilah Thawilah

Mad shilah thawilah atau mad shilah kubra adalah ha’ dhomir yang berada diantara dua huruf berharakat dan sesudahnya ada hamzah. Ukuran panjang mad shilah kubra sama derajatnya dengan mad jaiz munfashil yaitu 4-5 harakat dan yang diutamakan 4 harakat. Contoh:

مَالَهُ أَخْلَدَهُ – عِنْدَهُ إِلَّا

 

  1. Badal

Yang ketiga dari mad yang dikarenakan ada hamzah adalah badal. Maksud badal disini karena huruf madnya pengganti dari hamzah atau hamzah bergantian posisi dengan mad.

3.1 Mad Badal

Mad badal adalah apabila huruf mad terletak setelah hamzah atau bacaan mad yang terdapat pada hamzah. Ada dua sebab mengapa mad ini dinamakan mad badal:

Pertama: Apabila huruf mad merupakan pengganti dari hamzah seperti pada kata:

ءَامَنُواْ – أُوْتُوا – إِيْـمَانًا

Huruf mad pada mad pada contoh di atas merupakan pengganti dari hamzah. Karena asal dari ketiga contoh di atas adalah (أَأْمَنُوْا), (أُؤْتُوا), dan (إِئْمَانًا). Dalam kaidah ibdal, apabila ada dua hamzah beriringan dimana yang pertama berharakat dan hamzah yang kedua sukun, maka hamzah yang kedua digantikan dengan huruf alif, ya’ sukun, atau wau sukun tergantung harakat pada hamzah yang pertama.

Kedua: Karena posisi mad menggantikan posisi hamzah. Salah satu sebab mad far’i adalah bila terdapat hamzah setelah huruf mad. Namun dalam mad badal posisi keduanya bergantian atau bertukar posisi. Huruf mad pada kasus yang kedua ini bukanlah merupakan pengganti dari hamzah, melainkan memang huruf asli. Contoh:

الْآخِرَةُ –  يُرَاءُوْنَ – مُتَّكِئِيْنَ

Panjang mad badal dalam riwayat Imam Hafsh adalah dua harakat atau satu alif.

  • Sukun
  1. Sukun Aridh

Sukun aridh adalah sukun dikarenakan waqaf. Asalnya bukan merupakan huruf mati, tapi karena diwaqafkan maka huruf terakhir disukunkan.

1.1 Mad Aridh Lissukun

Mad ‘aridh lissukun adalah setelah mad terdapat huruf sukun karena waqaf. Panjangnya bisa 2, 4 atau 6 harakat. Contoh mad ‘aridh lissukun:

نَسْتَعِيْنُ – يُوقِنُوْنَ – عَظِيْمٌ – قَدِيْرٌ

Diutamakan panjang 6 harakat apabila huruf yang disukunkannya adalah hamzah dan tentunya terdapat hukum mad wajib muttashil. Contoh:

السَّمَآءِ – حُنَفَآءَ

1.2 Mad Lin

Mad lin adalah apabila setelah huruf lin terdapat huruf sukun baru karena diwaqafkan. Huruf lin adalah wau sukun atau ya sukun yang huruf sebelumnya berharakat fathah. Contoh mad lin:

مِنْ خَوْفٍ – ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ – هذَا الْبَيْتِ – هُوَ خَيْرٌ

Cara membaca mad lin adalah dengan memanjangkan vokal “u” atau “i” dengan ukuran 2, 4 atau 6 harakat.

  1. Sukun Ashli

Apabila mad bertemu dengan sukun asli (bukan aridh) dihukumi mad lazim. Mad lazim terbagi dua, yaitu mad lazim harfi dan mad lazim kilmi. Baik harfi maupun kilmi dibagi lagi menjadi mikhaffaf dan mutsaqqal.

2.1. Mad Lazim Harfi Mukhaffaf

Adalah huruf fawatihus suwar yang bila dipecah terdiri dari 3 huruf dan ditengahnya huruf mad. Hurufnya ada 8 yaitu dikumpulkan pada (نَقَصَ عَسَلُكُمْ). Panjangnya 6 harakat. Contoh:

ن – يس – كهيعص – حم

2.2. Mad Lazim Harfi Musyba’

Adalah huruf fawatihus suwar yang bila dipecah terdiri dari 3 huruf dan ditengahnya huruf mad dan diidghamkan. Panjangnya 6 harakat. Contoh:

الـمّ – الـمّر – الـمّص – طسمّ

Catatan:

Apabila huruf yang delapan tersebut dipecah, maka seperti ini (نُوْنْ), (قَافْ), (صَادْ), (عَيْنْ), (سِيْنْ), (لَامْ), (كَافْ), dan (مِيْمْ).

Huruf-huruf pada fawatihus suwar dibagi tiga:

Dibaca pendek, yaitu alif.

Dibaca 2 harakat, yaitu pada 5 huruf yang dikumpulkan pada (حَيَّ طَهَرَ) dan dihukumi mad ashli.

Dibaca 6 harakat seperti yang telah dijelaskan.

2.3. Mad Lazim Kilmi Mukhaffaf

Mad bertemu huruf yang sukun. Panjangnya 6 harakat. Di Al-Qur’an hanya tedapat di surat Yunus ayat 51 dan 91 yaitu kata:

…آلأنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

آلأنَ وَقَدْ عصيتُ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

2.4. Mad Lazim Kilmi Mutsaqal

Mad bertemu huruf yang bertasydid. Panjangnya 6 harakat. Contoh:

وَلَاالضَّآلِّيْنَ – مِنْ دَآبَّةٍ – الطَّآمَّةُ – الصَّآخَّهُ

Mungkin para pembaca menemukan perbedaan tentang pembagian mad far’i di artikel ini dengan buku tajwid yang banyak beredar di masyarakat. Saya tidak memasukkan mad tamkin, mad iwadh dan mad shilah qashirah ke dalam kategori mad far’i. Ketiga mad tersebut termasuk mad ashli. Hal ini saya dapatkan dari guru-guru saya dan dari buku-buku tajwid berbahasa Arab dimana tidak ada yang memasukkan mad tamkin, mad iwadh, dan mad shilah qashirah ke dalam mad far’i.

Penjelasan dan contoh lebih lengkap silakan klik link berikut:

Materi 4

Bacaan Tidak Ghunnah

1. Idzhar Halqi

Idzhar Halqi merupakan salah satu cabang /bagian dari Hukum Izhar yang terdapat dalam Ilmu Tajwid. Idzhar mempunyai makna terang atau jelas. Disebut Izhar Halqi hal ini disebabkan oleh makhraj dari huruf-huruf tersebut keluarnya dari dalam tenggorakan (halq). Hukum Idzhar Halqi ini berlaku bila terdapat Nun Sukun ( نْ ) ataupun juga  tanwin (dhomah tanwin (ــٌـ), kasroh tanwin (ــٍــ) dan fathah tanwin (ــًـ)/ sesudahnya  bertemu dengan huruf-huruf  = Alif (ا), ‘Ain (ع), Ghain (غ), Ha (ح), Kha (خ), Ha’ ( ﮬ)  dan Hamzah  ( ء ) , akan tetapi nun mati ( نْ ) ataupun juga tanwin   ــًــ, ــٍــ, ــٌــ  jarang sekali ketemu dengan huruf hijaiyzah Hamzah ( ء ), namun huruf Hamzah ini merupakan salah satu bagian dari huruf Idzhar Halqi. Cara membaca Idzhar Halqi  adalah wajib  terang/jelas, dan tidak boleh dengan berdengung. Contoh Idzhar Halqi dalam Al Qur’an Untuk Huruf Alif وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ = waminng syarri ghoosiqin idzaa waqoba Contoh di atas terdapat dalam Al Qur’an surat Al ‘Falaq ayat yang ke-3, yaitu kasroh tanwin dan ketemu dengan huruf alif (hamzah), cara membacanya yaitu terang /jelas yaitu qin (ghoo siqin idzaa).

 

2. Idzhar Wajib atau Mutlak

Idzhar Wajib adalah merupakan salah satu bagian dari Hukum Idzhar yang teradapat dalam ilmu tajwid. Bagian ilmu idzhar yang lain adalah idzhar halqi. Cara membaca dari hukum idzhar adalah terang / jelas dan tidak mendengung. Dalam Hukum Idghom Bighunnah diterangkan bahwasannya apabila ada Nun Sukun ( نْ ) dan dibelakangnya teradapat huruf ( ي ـ و ـ ن ـ م ) tetapi dalam satu kata (biasanya tersambung), maka harus dibaca terang /jelas dan tidak berdengung, dan ini disebut dengan Idzhar Wajib/Idzhar Mutlak. Dalam Al Qur’an, idzhar wajib / mutlak ada 4 yaitu :   1. دُنْيَا : dunyaa  2. بُنْيَانٌ : bunyaanun 3. قِنْوَانٌ : qinwaanun 4. صِنْوَانٌ : sinwaanun.

 

Materi 5

Bacaan Ghunnah

1.      Idgham Bighunnah

 Hukum Idgham Bighunnah dan ini sering sekali disebut dengan Idgham Ma’al Ghunnah yaitu suatu hukum tajwid yang berlaku ketika ada Nun mati / nun disukun [نْ ] atau  tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) yang bertemu dengan huruf Mim [م], Nun [ن], Waw [و], dan huruf Ya [ي] dan tidak dalam satu kata / kalimat atau harus secara terpisah. Bi berarti dengan. Ghunnah berarti  dengung dan Idgham maknanya adalah meleburkan satu huruf yang berada di depan ke dalam huruf yang ada sesudahnya, atau bisa dikatakan dengan bahaa Arab adalah di-tasydid-kan. Cara membaca dari Idgham Bighunnah yaitu dengan cara meleburkan نْ  [nunt mati ] ataupun tanwin, baik itu dhommah tanwin [ــٌــ], kasroh tanwin [ــٍــ],  ataupun fathah tanwin [ــًــ] menjadi suara huruf yang ada di depannya mim [م], nun [ن], waw[و] dan ya [ي], atau dari keempat huruf tersebut seolah-olah seperti diberi tanda tasydid, dan diiring dengan menggunakan suara yang berdengung 1 Alif – 1 1/2 Alif atau sekitar 2 sampai 3 harakat. Contoh  Hukum Idgham Bighunnah (Ma’al ghunnah) a.  Contoh Nun [نْ] Sukun dan Tanwin[ًٌٍ] bertemu Ya [ي] لِمَنْ يَرَى  : Tulisan aslinya adalah liman yaraa, dan dibacanya adalah limayyaraa اَنْ يَتُوْبُ : tulisan aslinya an yatuuba dan dibacanya adalah ayyatuuba b. Contoh Nun [نْ] Sukun dan Tanwin[ًٌٍ] bertemu waw [و] مِنْ وَرَائِهِمْ : Tulisan aslinya adalah man waraa ihim, dan dibacanya adalah mawwaraa ihim c. Contoh Nun [نْ] Sukun dan Tanwin[ًٌٍ] bertemu mim [م] نَكُنْ مَعَكًمْ : Tulisan aslinya adalah nakun ma‘akum, dan dibacanya adalah nakumma‘akum

2.       Idgham bilaghunnah

Hukum Idgham Bilaghunnah yaitu suatu hukum tajwid yang terjadi ketika ada Nun Sukun ( نْ ) atau juga tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) yang ketemu dengan huruf hijaiyah lam ( ل ) atau huruf hijaiyah Ro ( ر ), dan dibaca dengan tidak menggunakan suara yang berdengung Bila maknanya adalah dengan tidak [tanpa]. Ghunnah maknanya adalah   berdengung. Sementara itu Idgham maknanya adalah meleburkan / menggabungkan satu huruf hijaiyah ke dalam huruf hijaiyah sesudahnya, atau bisa dikatakan dengan istilah di-tasydid-kan. Cara membacanya yaitu dengan cara meleburkan huruf hijaiyah  نْ  atau tanwin [ ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ] tersebut menjadi suara huruf hijaiyah sesudahnya yaitu huruf lam /  ل  ataupun huruf ro /  ر, atau dengan cara lafaz yang kedua huruf hijaiyah tersebut seakan-akan  diberi tanda tasydid, dengan tanpa dikuti dengan suara berdengung (ghunnah). Contoh bacaan idgham Bilaghunnah untuk nun mati / tanwin bertemu huruf lam مِنْ لَدُنْكِ : Tulisan aslinya adalah min ladunka, tetapi dibaca milladunka لَطِيْفٌ لِمَا : Tulisan aslinya adalah lathiifun limaa, tetapi dibaca lathiifullimaa.

3.      Iqlab

Iqlab yaitu salah satu dari hukum tajwid yang terjadi ketika ada huruf Nun Sukun ( نْ ) ataupun juga  tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) yang ketemu dengan huruf hijaiyah Ba ( ب ) . Secara harfiah, Iqlab mempunyai arti menggantikan atau mengubah sesuatu dari bentuk aslinya. Cara membaca Iqlab yaitu dengan cara menggantikan / mengubah huruf  نْ  ataupun tanwin  ــًــ, ــٍــ, ــٌــ jadi suara huruf mim sukun  (  مْ ), oleh karenanya ketika nun mati ataupun tanwian akan bertemu dengan huruf ba (ب , maka  bibir atas dan bibir bawah tersebut posisinya tertutup, dan juga diiringi dengan suara dengung kurang lebih 2 harakat. Hukum Iqlab di dalam Al-Quran, biasanya sudah ditandai dengan huruf mim kecil ( م )  – dan huruf tersebut diletakkan di atas – antara نْ atau  ــًــ, ــٍــ, ــٌــ  dengan huruf ب . Contoh Hukum Iqlab : مَنْ بِخَلَ : mambakhila 

4.      Ikhfa’ haqiqi

Ikhfa’ Haqiqi bila dilihat berdasarkan asal hurufnya [harfiah /etimologi] mempunyai arti menyembunyikan atau bisa juga berarti menyamarkan. Di dalam ilmu tajwid, apabila ada Nun disukun ( نْ ) dan juga tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ), baik itu fathah tanwin, kasrah tanwin dan juga dhomah tanwin kemudian dibelakangnya terdapat  huruf hijaiyah yang berjumlah 15 (lima belas) maka hukumnya adalah ikhfa’ haqiqi.  Ikhfa Haqiqi maknanya adalah menyamarkan /menyembunikan huruf Nun Sukun ( نْ ) ataupun juga tanwin (fathah tanwin ( ــٌــ), kasrah tanwin ( ــٍــ), dhomah tanwin ــًــ ) masuk ke dalam huruf hijaiyah yang berada di belakangnya (sesudahnya). Huruf hijaiyah tersebut ada 15 huruf  di bawah ini, yaitu : ت – ث – د – ذ – ز – س – ش – ص – ض – ط – ظ – ف – ق – ك. Ke-15 huruf hijiayiah di atas tersebut tidak mengandung tasydid dan kita harus membacanya dengan dengung [ghunnah]. Cara membaca ikhfa’ haqiqi yaitu dengan cara  mengeluarkan suara نْ atau ــًــ, ــٍــ, ــٌــ dari dalam rongga hidung sampai dengan terlihat samar atau bisa juga menjadi suara “NG” atau “N” , sesudah itu disambut dengan dengung sepanjang 1 – 1 1/2 Alif atau bisa kurang lebih  2 – 3 harakat, kemudian setelah itu barulah  masuk untuk membaca huruf sesudah nun mati ataupun tanwin tersebut. Sebagai contoh :مِن دُونِهِمَا : Minnnn . . duunihimaa atau Minnnngduunihimaa  ت – مِنْ تَحْتِهَا = Minngtahtihaa. Wallahu A’lam.


Materi 6

TANDA WAQAF

  1. Tanda La (لا)

Tanda ini disebut juga dengan waqaf la washal. Tanda waqaf ini mempunyai arti tidak boleh berhenti sama sekali. Sehingga, apabila menemukan tanda baca ini di tengah bacaan atau ayat, maka tidak boleh untuk berhenti.

Akan tetapi jika tandanya terdapat pada akhir ayat, maka diperbolehkan untuk berhenti pada akhir ayat tersebut.

  1. Tanda mim ( مـ )

Ini merupakan tanda dari waqaf lazim yang merupakan tanda yang mewajibkan untuk berhenti di akhir kalimat dengan sempurna. Lalu, tanda ini juga tidak memiliki kaitan dengan kalimat setelahnya.

Hal tersebut membuat kalimat sebelumnya tidak harus memiliki hubungan dengan kalimat setelahnya.

  1. Tanda sad ( ﺹ )

Tanda sad dikenal sebagai waqaf murakhas yang menunjukan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti. Akan tetapi, tanda ini diperbolehkan untuk berhenti jika keadaan darurat tanpa mengubah makna dan artinya sama sekali.

Saat bertemu dengan tanda ini, boleh berhenti jika sudah kehabisan napas atau ayatnya terlalu panjang.

  1. Tanda sad lam ya ( ﺻﻠﮯ )

Tanda waqaf keempat ini adalah singkatan dari kata al-wasl awlaa yang maknanya washal atau meneruskan bacaan maka itu lebih baik. Apabila Mad bertemu waqaf ini di dalam bacaan, maka teruskanlah bacaan tersebut tanpa mewakafkannya dan itu jauh lebih baik.

  1. Tanda qaf ( ﻕ )

Tanda qaf memiliki singkatan qeela alayhil waqf yang artinya telah dinyatakan boleh berhenti di waqaf yang sebelumnya. Sehingga, akan lebih baik apabila Anda meneruskan bacaan meskipun boleh diwakafkan.

  1. Tanda sad lam ( ﺼﻞ )

Tanda sad lam adalah singkatan dari ‘qad yoosalu’ yang artinya kadang boleh diwasalkan atau boleh diteruskan (bersambung). Sehingga, akan lebih baik apabila berhenti meskipun terkadang juga boleh untuk diwasalkan.

  1. Tanda qif ( ﻗﻴﻒ )

Waqaf ini juga dinamakan waqaf mustahab. Ini merupakan tanda waqaf yang lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda ini biasanya akan ditemukan di kalimat saat pembaca meneruskannya tanpa harus berhenti.

  1. Tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ )

Tanda waqaf sin mengartikan bahwa Anda harus berhenti seketika tanpa mengambil nafas terlebih dahulu. Dengan kata lain, makananya yaitu pembaca harus berhenti seketika tanpa mengambil nafas yang baru agar bisa meneruskan bacaan kembali.

  1. Tanda kaf ( ﻙ )

Tanda kaf adalah singkatan dari kadzaalika yang memiliki makna serupa. Waqaf ini ditandai oleh huruf kaf dan memiliki makna serupa dengan waqaf yang sebelumnya. Sehingga, saat bertemu dengan tanda ini, sebaiknya menyamakannya dengan waqaf sebelumnya.

  1. Tanda mu’anaqah/muraqabah ( … …)

Tanda waqaf satu ini disebut sebagai waqaf muraqabah(waqaf ta’anuq) yang artinya terikat. Biasanya wakaf ini muncul sebanyak 2 kali di manapun. Cara membacanya yaitu, harus berhenti pada salah satu tanda tersebut.

Sehingga, jika sudah berhenti di tanda pertama, maka tidak perlu berhenti di tanda kedua dan begitupun sebaliknya.

  1. Tanda waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ )

Tanda waqfah ini memiliki maksud yang sama dengan waqaf saktah, dimana suatu tanda yang mewajibkan untuk berhenti sejenak tanpa harus mengeluarkan nafas terlebih dahulu (tidak bernafas).

Akan tetapi, untuk tanda waqfah ini, diharuskna untuk berhenti lebih lama tanpa adanya pengambilan nafas.

  1. Tanda tho ( ﻁ )

Ini disebut juga sebagai waqaf Mutlaq. Saat bertemu dengan tanda ini, pembaca diharuskan sekali untuk berhenti.

  1. Tanda jim ( ﺝ )

Tanda ini disebut sebagai waqaf jaiz. Saat bertemu dengan tanda ini, pembacanya boleh berhenti dan juga boleh melanjutkan.

  1. Tanda zha ( ﻇ )

Tanda zha ini cara membaca akan lebih baik jika tidak berhenti. Namun, sebaiknya pembaca terus melanjutkan bacaan ke kalimat selanjutnya.