1. FI-kurban pengertian, hukum, syarat, tata cara

Kurban: Pengertian, Hukum,Syarat, Tata Cara: Materi PAI

share

Kurban

Pengertian kurban

Kurban secara bahasa berasal dari bahasa Arab, yaitu قربة-ياقروب (qaraba-yaqrubu) yang berarti dekat. Maksud dari dekat adalah mendekatkan diri kepada Allah, dengan melakukan amalan. Dengan demikian kurban (udhiyyah) adalah mempersembahkan sesuatu, yaitu hewan ternak (unta, sapi, kerbau, atau kambing) yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan kurban secara istilah dapat diartikan sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara menyembelih hewan tertentu yang telah disyariatkan pada hari raya Idul Adha yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Selain itu, pelaksanaan kurban bisa juga dilaksanakan pada hari Tasyrik yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Kurban telah disebutkan di dalam surah Al-Kautsar Ayat 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Yang artinya “maka laksanakanlah salat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah”.

Selain itu perintah berkurban pertama kali diterima oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi ibrahim alaihissalam bermimpi mendapatkan perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyembelih putra kesayangannya sendiri, yaitu Nabi Ismail Alaihissalam kisah ini diriwayatkan dalam Surah As-Saffat Ayat 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Yang artinya “maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “wahai Anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dalil lainnya tentang kurban pada Al-Quran

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٣٦ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧

Yang artinya “dan unta-unta itu kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padaNya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.”

daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj [22]: Ayat 36-37).

Dalil lainnya tentang kurban pada Hadist

Ibadah kurban dianjuran bagi umat muslim. Hal ini dijelaskan dalam hadist dari Aisyah R.A. Bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “melalui ibadah kurban manusia akan hidup lapang dalam kedermawanan.”

Bahkan, meskipun pisau baru saja digesekkan pada leher hewan dan darahnya belum membasahi tanah, Allah SWTsudah mempersiapkan pahala sebagai balasan atas ketaatan orang yang berkurban dan memenuhi perintah-nya.

“tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai oleh Allah SWT selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima di sisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban.” (HR. Tirmidzi)

Hadits tersebut menggambarkan begitu besar keutamaan bagi seseorang untuk melakukan pengorbanan bahkan sebelum ibadah yang sebenarnya dilakukan. Pelaksanaan ibadah kurban ini juga dapat memotivasi umat islam untuk memperbanyak kurban demi agama.

Hukum kurban

Hukum kurban menurut sebagian ulama:

  1. Sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan
  2. Menurut Imam Abu Hanafi ibadah kurban hukumnya wajib bagi orang yang mampu dan tidak sedang bepergian, namun hukum kurban dapat berubah menjadi wajib apabila terkena sebab-sebab berikut ini: (1) jika seseorang bernazar untuk berkurban. Nazar adalah sebuah janji yang harus ditepati dan wajib dilaksanakan sehingga ketika seseorang berjanji atau bernazar untuk berkurban maka ia wajib melaksanakan kurban. (2) jika ia telah mengatakan ketika membeli hewan tersebut ini adalah hewan udhiyyah atau hewan yang digunakan untuk kurban atau dapat juga dengan perkataan yang maknya sama maka hewan itu harus dijadikan kurban dan orang itu wajib untuk berkurban karena ia telah mengucapkan semacam nazar.

Syarat hewan kurban

  1. Jenis hewan kurban.

Hewan kurban harus berasal dari jenis binatang ternak. Contoh hewan ternak yang dimaksud adalah: sapi, biri-biri, kambing, dan unta. Berdasarkan pada pendapat ulama-ulama madzhab, khususnya lima madzhab besar. Mereka sepakat jenis hewan ternak itulah yang diperbolehkan untuk menjadi hewan kurban.

  1. Keadaan hewan kurban.

Hewan kurban hendaknya tidak memiliki cacat dalam fisik tubuhnya. Dari hadits riwayat Ahmad Bin Hanbal, Rasulullah SAW. Bersabda: “empat macam hewan yang tidak akan sah dijadikan sebagai binatang untuk berkurban: rusak matanya, dalam keadaan sakit, berfisik pincang, memiliki tubuh kurus dan lemah.”

  1. Usia hewan kurban.

Umur hewan yang sah untuk disembelih adalah: domba yang telah mencapai umur satu tahun lebih atau gigi domba telah berganti. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih. Unta yang mencapai umur lima tahun lebih. Sapi atau kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.berdasarkan hadits riwayat imam muslim, satu ekor unta bisa berlaku untuk tujuh orang. Demikian pula untuk satu ekor sapi atau kerbau, berlaku sama untuk tujuh orang.

  1. Waktu penyembelihan kurban.

Mengenai jumlah hari tasyrik, para ulama berbeda pendapat. Madzhab hanbali, madzhab hanafi, dan madzhab maliki berpendapat bahwa waktu kurban adalah hari Idul Adha dan dua hari setelahnya. Maka batas penyembelihan hewan kurban jatuh pada tanggal 12 Dzulhijjah. Berbeda dengan madzhab syafi’i. Imam Syafi’i mengatakan bahwa waktu penyembelihan adalah empat hari, yaitu hari Idul Adha dan tiga hari setelahnya. Maka proses berkurban ini dilanjutkan pada hari-hari tasyrik. Hari tasyrik ini bertepatan dengan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Penyembelihan hewan kurban lebih baik dikerjakan pada siang hari. Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban pada malam hari berstatus hukum makruh tanzih. Artinya lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan.

Ketentuan Pembagian Daging Kurban

  1. Hewan yang sudah disembelih dan di potong-potong kemudian dibagi untuk tiga mustahik kurban yaitu untuk shahibul kurban, fakir miskin, dan para sahabat, kolega dan kenalan.
  2. Mustahik kurban baik shahibul kurban, fakir miskin atau orang yang mendapat pembagian daging kurban apabila tidak habis dapat menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari.
  3. Daging kurban tidak boleh diberikan untuk upah misalnya untuk upa penyembelih, pemotong atau panitia. Semuanya harus terbagi rata.
  4. Shahibul kurban tidak boleh mengambil bagian daging kurban yang baik-baik kemudian mensedkahkan yang jelek-jelek.
  5. Daging kurban hendaknya dibagikan dalam keadaan mentah namun demikian tidak dilarang membagi dalam keadaan sudah dimasak.
  6. Tidak ada ketentuan khusus tentang persoalan kurban, apakah berdasarkan keluarga atau perpersonal.
  7. Tidak ada larangan memberikan daging kurban kepada non-muslim namun demikian tetap perlu diperhatikan aspek kemaslahatannya.

Cara Penyembelihan Hewan Kurban

  1. Pertama, hewan kurban dirobohkan ke arah kiri dengan kepalanya menghadap ke kiblat.
  2. Kedua, bacalah basmalah sebelum menyembelih hewan kurban.
  3. Letakkan pisau tepat di leher hewan kurban, lalu lakukan gerakan penyembelihan tanpa mengangkat pisau sedikit pun. Ketika menyembelih, harus memutuskan tiga saluran, yakni pembuluh darah, pernapasan, dan saluran makanan.
  4. Setelah hewan benar-benar mati, kamu bisa melakukan proses selanjutnya.
  5. Gantung hewan kurban tersebut dengan posisi kaki belakang diikat ke atas dan kepala menghadap bawah. Tujuannya supaya darah bisa keluar secara sempurna untuk mencegah terjadinya kontaminasi siding. Selain itu, posisi demikian memudahkan penanganan selanjutnya.
  6. Langkah keenam, ikat saluran makanan dan bagian anus. Cara ini dilakukan untuk memastikan isi lambung dan usus tidak mencemari daging,
  7. Selanjutnya, lakukan pengulitan hewan secara bertahap, mulai dari membuat sayatan di tengah sepanjang kulit dada dan perut sampai kaki tengah (medial).
  8. Jika pengulitan sudah selesai, berikutnya keluarkan isi rongga dada dan perut. Lakukan secara hati-hati agar usus dan lambung tidak robek atau terkena goresan pisau.
  9. Tahap kesembilan; ambil jeroan hewan kurban, seperti hati, paru, limpa, jantung, ginjal, lambung, usus, dan esofagus.
  10. Langkah kesepuluh, periksa kondisi daging, jeroan, dan kepala. Jika memungkinkan, pemeriksaan dilakukan oleh dokter hewan atau paramedis veteriner.
  11. Selanjutnya, pindahkan daging ke tempat khusus atau kemas daging menggunakan kantong plastik.
  12. Untuk jeroan, cuci sampai bersih. Upayakan limbah tidak dibuang ke sungai atau selokan.

Tulisan ini merangkum dari sumber-sumber yang terpercaya

Baca artikel menarik yang membahas materi Pendidikan Agama Islam (PAI) lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERBARU

SEMUA KATEGORI