Kumpulan Soal Linguistik Fonologi dan Jawabannya

share

  1. Fonem dapat dibagi atas vokal dan konsonan. Jelaskan!

Jawab :

Pembedaan kedua fonem ini didasarkan ada tidaknya hambatan pada alat bicara. Sebuah bunyi disebut vokal apabila tidak ada hambatan pada alat bicara. Sebuah bunyi disebut konsonan apabila dibentuk dengan cara menghambat arus udara pada sebagian alat bicara.

 

  1. Sebutkan langkah-langkah atau prosedur menganalisis fonem yang praktis?

Jawab:

Langkah-langkah atau prosedur dari menganalisis fonem dengan cara praktis yang

Pertama, mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis.

Kedua, mencatat bung yang ada dalam korupsi data ke dalam peta bunyi.

Ketiga, memanfaatkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis.

Keempat, mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis.

Kelima, mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.

Keenam, mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas.

Ketujuh, mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama (identis).

Kedelapan, mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip (analogis).

Kesembilan, mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan.

Kesepuluh, mencatat bunyi-bunyi dalam inventori dan fonemis, condong menyebar secara simetris.

 

  1. Bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi. Lalu apakah yang di maksud dengan berfluktuasi dalam suatu bunyi? Berikan contoh 3!

Jawab :

Berfluktuasi adalah perubahan pada ejaan suatu bunyi yang tidak merubah makna.

Contoh :

  1. [#pa+pa+ya#] ‘pepaya’

[#pə+pa+ya#] ‘pepaya’

  1. [#te+man#] ‘teman’

[#tə+man]   ‘teman’

  1. [#per+gi#]   ‘pergi’

[#pər+gi#]   ‘pergi’

 

  1. Jelaskan cara mengetahui kontras tidaknya bunyi bahasa dalam lingkungan yang sama atau mirip,dan berikan contoh pasangan yang sama atau mirip tersebut.

 Jawab:

Untuk mengetahui kontras tidaknya bunyi di suatu bahasa dilakukan dengan cara pasangan minimal, yaitu penjajaran  dua atau lebih dari bentuk bahasa terkecil dan bermain dalam bahasa tertentu yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi yang berbeda. Bunyi yang berbeda tersebut bertentangan atau berkontras dalam posisi atau distribusi yang sama atau mirip.

-Contoh pasangan minimal dalam lingkung yang sama adalah:

     [tari] – [dari]

     [paku] – [baku]

     [kali] – [gali]

     [laut] – [raut]

– Contoh pasangan minimal dalam lingkungan yang mirip adalah:

     [cari] – [jari]

     [kilap] – [gelap]

 

  1. Bunyi yang berbeda bertentangan atau berkontras dalam posisi dan distribusi yang sama atau mirip. Berikan contoh dan jelaskan?

Jawab:

 -Contoh posisi dan distribus yang sama adalah:

     [tari] – [dari]

     [paku] – [baku]

     [kali] – [gali]

     [laut] – [raut]

    Jadi bunyi dari pasangan tersebut hampir sama, tetapi maknanya berbeda. Yang

membedakanya hanya masing-masing kehadiran bunyi, seperti [t] – [d], [p] – [b], [k] – [g], [l] – [r]. Oleh karena itu bunyi-bunyi yang membedakan makna tersebut digolongkan ke dalam fonem yang berbeda, yaitu done /t/, /d/, /p/, /b/, /k/, /g/, /l/, dan /r/.

-contoh posisi dan distribusi yang mirip adalah:

 [ciri] – [jari]

[kilap] – [gelap]

Dari contoh lingkungan yang mirip ini, yaitu [c…ri] – [j…ri] dan [k…lap] – [g…lap] masing-masing pasangan berbeda maknanya sebagai akibat dari perbedaan satu bunyi, yaitu [i] -[a] dan [i] – [e]. Oleh karena bunda-bunyi tersebut berkontras dalam lingkungan mirip, maka bunyi tersebut digolongkan ke dalam done yang berbeda, yaitu fonem /i/, /a/, dan /e/.

 

  1. Bagaimanakah wujud fonem?

Jawab :

Wujud fonem berupa bunyi-bunyi segmental yang terdiri dari vokal maupun konsonan. Selain bentuk segmental, bentuk fonem juga dapat berupa unsur-unsur suprasegmental yang terdiri dari NADA, tekanan, durasi, maupun jeda.

 

  1. Bagaimana cara menentukan bunyi-bunyi memiliki kesamaan fonetis? Berikan contohnya!

Jawab :

Cara menentukan bunyi-bunyi dikatakan memiliki kesamaan fonetis apabila yang pertama, bunyi-bunyi tersebut berada dalam jalur (garis horizontal) yang sama, contohnya [i] – [u] , [p] – [t], yang kedua, jika bunyi tersebut berada dalam kolom (garis vertikal) yang sama, contoh [i] – [e] , [p] – [m], yang ketiga, bunyi-bunyi tersebut berada dalam jalur dan kolom yang sama, contoh [p] – [b] , [t] – [d], yang keempat, jika bunyi-bunyi tersebut mempunyai simbol yang sama tetapi berbeda dalam diakritik (tanda tertentu), contoh [p] – [p’], [i] – [u], yang kelima jika bunyi-bunyi tersebut mempunyai sifat yang sama, contoh [l] – [R]

 

  1. Apa yang dimasud dengan premis-premis?

Jawab :

Yang dimaksud dengan premis-premis merupakan pokok-pokok pikiran tentang bunyi yang berbentuk pernyataan-pernyataan yang lumrah atau maklum sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi. Pokok-pokok pikiran tersebut nantinya akan digunakan sebagai pegangan untuk menganalisis fonem-fonem suatu bahasa.

 

  1. Apa yang dimaksud dengan bunyi bervariasi bebas? Berikan contohnya!

Jawab :

Bunyi dikatakan bervariasi bebas apabila bunyi-bunyi yang memiliki fonetis yang sama bisa saling menduduki posisi yang lain, akan tetapi tetap tidak sampai membedakan makna. Contohnya, pada bunyi [k] dan [x] pada kata tertentu bisa saling bervariasi pengucapannya tanpa membedakan makna, misalnya [akir] dan [axir], [kilaf] dan [xilaf].

 

  1. Mengapa setiap fonem memiliki alofon ? dan akibat distribusi apa akan terjadi perubahan bunyi yang disebut aspirasi ? Berikan contohnya!

Jawab:

Dalam fonemik terdapat istilah fonem, alofon, dan bunyi bahasa.

Berikut penjelasannya.

Fonem, dalam bahasa Jepang disebut onso (音素) adalah satuan bunyi terkecil berwujud abstrak dengan ciri pembeda fonetis tertentu yang berfungsi membedakan makna dalam bahasa lisan, dan merupakan kristalisasi dari beberapa bunyi konkrit sebagai alofon dalam tata bunyi suatu bahasa. Jadi, bunyi konkrit alami disebut alofon dan fonem adalah satuan bunyi yang diciptakan ahli sehingga berwujud abstrak, karena keberadaan fonem ada di dalam benak pikiran penutur dan di dalam masyarakat pemakai bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, fonem sering dikatakan memiliki satu atau beberapa alofon, atau kebalikannya, satu atau beberapa alofon membentuk fonem. Jika meminjam konsep induk dan anak, maka fonem adalah induknya dan alofon adalah anaknya.

2.Aspirasi Merupakan pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan keluarnya udara dengan keras, sehingga keluar bunyi {h}. • Lepas Tajam: pelepasan artikulasi sec. tajam atau penuh. • Lepas Nasal: adanya pelepasan bunyi nasal di depannya. • Lepas Sampingan: terjadi ketika adanya bunyi sampingan di depannya.

 

  1. Jelaskan pengertian  fonemik

Jawab:

Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna, maka dalam fonemik kita harus meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi tersebut kita sebut fonem. Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan kita harus mencari satuan bahasa, biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi, lalu membandingkannya dengan satuan yang lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama.

Contoh :

Kata lawan dan kawan, kedua kata itu benar-benar mirip, masing-masing terdiri dari lima buah bunyi.

[ l ], [a], [w], [a], [n]

[ k ], [a], [w], [a], [n]

Ternyata perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama yaitu bunyi [ l ] dan bunyi [k] maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bunyi [ l ] dan bunyi [k] adalah dua fonem yang berbeda.

Bidang kajian fonemik yaitu “fonem” kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna

 

  1. Apa yang dimaksud dengan ciri suprasegmental atau fonem nonsegmental

Jawab :

Fonem yang tidak berwujud bunyi, tetapi merupakan tambahan terhadap bunyi yaitu tekanan,jangka, dan nada.

 

  1. Berdasarkan peta kontoid berdasar bunyi yang sefonetis kita bisa menentukan bahwa bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila?

Jawab :

  1. Bunyi-bunyi tersebut berada dalam lajur (garis horizontal) yang sama, contoh [i] – [u] , [p] – [t];
  2. Bunyi-bunyi tersebut berada dalam kolom (garis vertikal) yang sama, contoh [i] – [e], [p] – [m];
  3. Bunyi-bunyi tersebut berada dalam lajur dan kolom yang sama, contoh [p] – [b], [t] – [d];
  4. Bunyi-bunyi tersebut mempunyai simbol yang sama tetapi berbeda dalam diakritik (tamda tertentu), contoh  [p] – [p’], [i] – [u] – [ū];
  5. Bunyi-bunyi tersebut mempunyai sifat yang sama, contoh [I] – [R]

 

  1. Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Asimilasi dibedakan menjadi tiga. Sebutkan dan jelaskan.!

Jawab:

  1. Asimilasi progresif: Bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya — Kata mit der Frau (Belanda) diucapkan [mit ter Frau]
  2. Asimilasi regresif: Bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya — Kata op de weg (Belanda) diucapkan [obdeweg]
  3. Asimilasi resiprokal: Perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi — Kata Bereng hamu (Batak Toba) diucapkan [berek kamu]

 

[palang] ‘palang’         [atap] ‘atap’

[pIta] ‘pita                    [sap’tu] ‘sabtu’

[sapu] ‘sapu’                [kap’sul] ‘kapsul’

  1. Dari deretan di atas dapat diketahui bahwa bunyi stop bilabial tidak bersuara (tercetak tebal) di ucapkan berbeda. Deretan kiri diucapkan secara plosif sedangkan deret kanan diucapkan secara implasif. Adakah contoh lain yang memiliki kesamaan dengan deret di atas?

Jawab :

Contoh lain                                   [sikap] ‘sikap’

[pohon] ‘pohon’                          [tatap] ‘tatap’

[kepompong] ‘kepompong’       [tegap] ‘tegap’

[pagar] ‘pagar’

 

 

Baca artikel linguistik lainnya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ARTIKEL TERBARU

SEMUA KATEGORI